Dec 08

PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON NOMOR 5 TAHUN 2014

 

 

 

WALIKOTA CIREBON
PROVINSI JAWA BARAT
PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON
NOMOR  5  TAHUN   2014
TENTANG
PENYELENGGARAAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA CIREBON,
Menimbang  :  a.  bahwa  komunikasi  dan  informatika  merupakan
kebutuhan  pokok  setiap  orang  untuk  pengembangan
pribadi  dan  lingkungan  sosial  serta  merupakan  sarana
dalam  mengoptimalkan  pengawasan  publik  atas
penyelenggaraan  tata  kelola  kepemerintahan  yang  baik
dalam  proses  penyelenggaraan  manajemen
pemerintahan daerah;
b.  bahwa  pemanfaatan  komunikasi  dan  informatika  perlu
dikedepankan  dalam  proses  penyelenggaraan
manajemen   pemerintahan  daerah  sesuai  urusan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c.  bahwa  berdasarkan  pertimbangan  sebagaimana
dimaksud  pada  huruf  a  dan  huruf  b,  perlu  ditetapkan
Peraturan Daerah Kota Cirebon tentang Penyelenggaraan
Komunikasi dan Informatika;
Mengingat  :   1.  Pasal  18  ayat  (6)  Undang-Undang  Dasar  Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
2.  Undang-Undang  Nomor  16  Tahun  1950  tentang
Pembentukan  Daerah-daerah  Kota  Besar  dalam
Lingkungan  Propinsi  Djawa  Timur,  Djawa  Tengah,
Djawa  Barat,  dan  dalam  Daerah  Istimewa  Yogyakarta
(Berita  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  1950  Nomor
45),  sebagaimana  telah  beberapakali  diubah,  terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1954 tentang
Pengubahan  Undang-Undang  Nomor  16  dan  Nomor  17
Tahun  1950  (Republik  Indonesia  Dahulu)  tentang
Pembentukan  Kota-kota  Besar  dan  Kota-kota  Kecil  di
Djawa  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun
1954  Nomor  40,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik
Indonesia Nomor 551);
3.  Undang-Undang  Nomor  36  Tahun  1999  tentang
Telekomunikasi  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia
Tahun  1999  Nomor  154,  Tambahan  Lembaran  Negara
Republik Indonesia Nomor 3881);
2
4.  Undang-Undang  Nomor  32  Tahun  2002  tentang
Penyiaran  (Lembaran  Negara  Republik Indonesia  Tahun
2002 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4252);
5.  Undang-Undang  Nomor  32  Tahun  2004  tentang
Pemerintahan  Daerah  (Lembaran  Negara  Republik
Indonesia  Tahun  2004  Nomor  125,  Tambahan
Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Nomor  4437),
sebagaimana  telah  diubah  dengan  Undang-Undang
Nomor  12  Tahun  2008  tentang  Perubahan  Kedua  Atas
Undang-Undang  Nomor  32  Tahun  2004  tentang
Pemerintahan  Daerah  (Lembaran  Negara  Republik
Indonesia  Tahun  2008  Nomor  59,  Tambahan  Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
6.  Undang-Undang  Nomor  11  Tahun  2008  tentang
Informasi  dan  Transaksi  Elektronik  (Lembaran  Negara
Republik  Indonesia  Tahun  2008  Nomor  58,  Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843);
7.  Undang-Undang  Nomor  14  Tahun  2008  tentang
Keterbukaan  Informasi  Publik  (Lembaran  Negara
Republik  Indonesia  Tahun  2008  Nomor  61,  Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846);
8.  Undang-Undang  Nomor  20  Tahun  2008  tentang  Usaha
Mikro,  Kecil  dan  Menengah  (Lembaran  Negara  Republik
Indonesia  Tahun  2008  Nomor  93,  Tambahan  Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4866);
9.  Undang-Undang  Nomor  44  Tahun  2008  tentang
Pornografi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 181,  Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4928);
10.  Undang-Undang  Nomor  25  Tahun  2009  tentang
Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun  2009  Nomor  112,  Tambahan  Lembaran  Negara
Republik Indonesia Nomor 5038);
11.  Undang-Undang  Nomor  28  Tahun  2009  tentang  Pajak
Daerah  dan  Retribusi  Daerah  (Lembaran  Negara
Republik  Indonesia Tahun  2009  Nomor  130,  Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
12.  Undang-Undang  Nomor  38  Tahun  2009  tentang  Pos
(Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2009
Nomor  146,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik
Indonesia Nomor 5065);
13.  Undang-Undang  Nomor  12  Tahun  2011  tentang
Pembentukan  Peraturan  Perundang-undangan
(Lembaran   Negara   Republik   Indonesia   Tahun   2011
Nomor   82,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik
Indonesia Nomor 5234);
14.  Peraturan  Pemerintah  Nomor  52  Tahun  2000  tentang
Penyelenggaraan  Telekomunikasi  (Lembaran  Negara
Republik  Indonesia Tahun  2000  Nomor  107,  Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3980);
3
15.  Peraturan  Pemerintah  Nomor  52  Tahun  2005  tentang
Penyelenggaraan  Penyiaran  Lembaga  Penyiaran
Berlangganan  (Lembaran  Negara  Republik  Indonesia
Tahun  2005  Nomor  129,  Tambahan  Lembaran  Negara
Republik Indonesia Nomor 4568);
16.  Peraturan  Pemerintah  Nomor  38  Tahun  2007  tentang
Pembagian  Urusan  Pemerintahan  antara  Pemerintah,
Pemerintahan  Daerah  Provinsi  dan  Pemerintahan
Daerah  Kabupaten/Kota  (Lembaran  Negara  Republik
Indonesia  Tahun  2007  Nomor  82,  Tambahan  Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
17.  Peraturan  Pemerintah  Nomor  41  Tahun  2007  tentang
Organisasi  Perangkat  Daerah  (Lembaran  Negara
Republik  Indonesia  Tahun  2007,  Tambahan  Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4741);
18.  Peraturan  Pemerintah  Nomor  50  Tahun  2007  tentang
Tata  Cara  Pelaksanaan  Kerjasama  Daerah  (Lembaran
Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2007  Nomor  112,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4761);
19.  Peraturan  Pemerintah  Nomor  82  Tahun  2012  tentang
Penyelenggaraan  Sistem  dan  Transaksi  Elektronik
(Lembaran  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  2012
Nomor  189,  Tambahan  Lembaran  Negara  Republik
Indonesia Nomor 5348);
20.  Peraturan  Menteri  Komunikasi  dan  Informatika  Nomor
27/PER/M.KOMINFO/9/2006  tentang  Pengamanan
Pemanfaatan  Jaringan  Telekomunikasi  Berbasis
Protokol Internet;
21.  Peraturan  Menteri  Komunikasi  dan  Informatika  Nomor
18/PER/M.KOMINFO/03/2009  tentang  Tata  Cara  dan
Proses  Perizinan  Penyelenggaraan  Penyiaran  oleh
Pemerintah  Daerah  Provinsi  dan  Pemerintah  Daerah
Kabupaten/Kota;
22.  Peraturan  Menteri  Komunikasi  dan  Informatika  Nomor
23/PER/M.KOMINFO/04/2009  tentang   Pedoman
Pelaksanaan  Urusan  Pemerintah  Sub  Bidang  Pos  dan
Telekomunikasi;
23.  Peraturan  Menteri  Komunikasi  dan  Informatika  Nomor
41  Tahun  2012  tentang   Penyelenggaraan  Penyiaran
Lembaga Penyiaran Berlangganan Melalui Satelit, Kabel,
dan Terestrial;
24.  Peraturan  Menteri  Dalam  Negeri   Nomor  1  Tahun  2014
tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah;
25.  Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 29 Tahun
2010  tentang  Penyelenggaraan  Komunikasi  dan
Informatika  (Lembaran  Daerah  Provinsi  Jawa  Barat
Tahun  2010  Nomor  29  Seri  E,  Tambahan  Lembaran
Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 29);
4
26.  Peraturan  Daerah  Kota  Cirebon  Nomor  12  Tahun  2008
tentang  Rincian  Urusan  Pemerintahan  yang
Dilaksanakan  Pemerintah  Kota  Cirebon  (Lembaran
Daerah  Kota  Cirebon  Tahun  2008  Nomor  12  Seri  D,
Tambahan Lembaran Daerah Kota Cirebon Nomor 19);
27.  Peraturan  Daerah  Kota  Cirebon  Nomor  14  Tahun  2008
tentang  Dinas  -  Dinas  Daerah  pada  Pemerintah  Kota
Cirebon  (Lembaran  Daerah  Kota  Cirebon  Tahun  2008
Nomor  14  Seri  D,  Tambahan  Lembaran  Daerah  Kota
Cirebon  Nomor  21)  sebagaimana  telah  diubah  dengan
Peraturan  Daerah  Kota  Cirebon  Nomor  13  Tahun  2011
tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah  Kota Cirebon
Nomor  14  Tahun  2008  tentang  Dinas  -  Dinas  Daerah
pada  Pemerintah  Kota  Cirebon  (Lembaran  Daerah  Kota
Cirebon  Tahun  2011  Nomor  13  Seri  D,  Tambahan
Lembaran Daerah Kota Cirebon Nomor 37);
28.  Peraturan  Daerah  Kota  Cirebon  Nomor  8  Tahun  2012
tentang  Rencana  Tata  Ruang  Wilayah  (RTRW)  Kota
Cirebon  Tahun  2011-2031  (Lembaran  Daerah  Kota
Cirebon Tahun 2012 Nomor 8 Seri E);
29.  Peraturan  Daerah  Kota  Cirebon  Nomor  9  Tahun  2012
tentang  Penyelenggaraan  Menara  Bersama
Telekomunikasi  (Lembaran  Daerah  Kota  Cirebon  Tahun
2012 Nomor 9 Seri E);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA CIREBON
dan
WALIKOTA CIREBON
MEMUTUSKAN :
Menetapkan   :   PERATURAN  DAERAH  TENTANG  PENYELENGGARAAN
KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1.  Kota adalah Kota Cirebon.
2.  Walikota adalah Walikota Cirebon.
3.  Pemerintah Kota adalah Pemerintah Kota Cirebon.
4.  Satuan  Kerja  Perangkat  Daerah  yang  selanjutnya  disingkat  SKPD  adalah
Satuan  Kerja  Perangkat  Daerah  Kota  yang  melaksanakan  urusan
pemerintahan  bidang  komunikasi  dan  informatika  di  lingkungan
Pemerintah Kota Cirebon.
5.  Kepala  SKPD  adalah  Pimpinan  Satuan  Kerja  Perangkat  Daerah  yang
melaksanakan  urusan  pemerintahan  bidang  komunikasi  dan  informatika
di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon.
5
6.  Organisasi  Perangkat  Daerah  yang  selanjutnya  disingkat  OPD  adalah
Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon.
7.  Badan Hukum adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi perseroan
terbatas,  koperasi,  yayasan  dan/atau  bentuk  usaha  tetap  serta  bentuk
badan usaha lainnya.
8.  Komunikasi adalah penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak yang
lain  melalui  media  perantara  yang  bersifat  elektronik  maupun  non
elektronik.
9.  Informatika  adalah  pemanfaatan  perangkat-perangkat  berkemampuan
komputasi  dalam  pengelolaan  informasi,  termasuk  dalam  pemrosesan,
pengarsipan dan penyebaran informasi.
10.  e-Government  adalah  pemanfaatan  teknologi  informasi  dan  komunikasi
dalam  proses  manajemen  pemerintahan  untuk  meningkatkan  efisiensi,
efektivitas,  transparansi,  dan  akuntabilitas  penyelenggaraan
pemerintahan.
11.  Masyarakat  informasi  adalah  masyarakat  yang  mempunyai  aktivitas
ekonomi,  politik,  sosial  dan  budaya  melalui  proses  produksi,  konsumsi
dan  distribusi  informasi,  ditandai  dengan  intensitas  yang  tinggi  atas
pertukaran dan penggunaan teknologi komunikasi.
12.  Keamanan  informasi  adalah  proteksi  informasi  dan  sistem  informasi  dari
akses,  penggunaan,  penyebaran,  pengubahan,  gangguan,  atau
penghancuran oleh pihak yang tidak berwenang.
13.  Infrastruktur  adalah  perangkat  keras,  piranti  lunak,  dan  peralatan
telekomunikasi,  yang  ketika  digunakan  bersama,  menjadi  pondasi  dasar
untuk mendukung pelaksanaan e-government.
14.  Basis  Data  (Database)  adalah  suatu  sistem  yang  menyimpan  data  dalam
jumlah besar dengan mekanisme sistematis dan terstruktur.
15.  Aplikasi  adalah  instrumen  yang  mampu  mengolah  data  atau  informasi
secara  otomatis  sedemikian  rupa  sehingga  memberikan  kemudahan  dan
kecepatan  bagi  pengguna  dalam  memperoleh  data  atau  informasi  yang
diperlukan.
16.  Permainan  daring  (game  online)  adalah  permainan  komputer  yang
memerlukan koneksi internet saat memakainya.
17.  Server  adalah  piranti  khusus  dalam  jaringan  komputer  yang  menjadi
tempat  bagi  semua  simpul  di  dalam  jaringan  untuk  bisa  melakukan
resource sharing.
18.  Nirkabel  adalah  sistem  hubungan  antar  perangkat  komputer  tanpa
menggunakan kabel, melainkan menggunakan gelombang  frekuensi radio
2,4 GHz atau 5 GHz.
19.  Wireless  Fidelity  yang  selanjutnya  disingkat  wi-fi  adalah  jaringan  internet
nirkabel  yang  melayani  pengguna  pada  jarak  tertentu  dalam  suatu  area
terbatas dalam suatu gedung atau rumah.
20.  Hotspot  adalah  tempat-tempat  umum  yang  memiliki  layanan  internet
dengan menggunakan teknologi jaringan nirkabel, seperti pada perguruan
tinggi, mall, plaza, perpustakaan, hotel, restoran, atau pelabuhan.
6
21.  Voice  over  Internet  Protocol  yang  selanjutnya  disingkat  VoIP  adalah
teknologi  komunikasi  yang  memungkinkan  percakapan  suara  jarak  jauh
melalui  media  internet  di  mana  suara  diubah  menjadi  kode  digital  dan
dialirkan melalui jaringan yang mengirimkan paket-paket data dan bukan
lewat sirkuit analog telepon biasa.
22.  Rekomendasi  adalah  surat  pertimbangan  yang  dikeluarkan  oleh  SKPD
untuk  digunakan  sebagai  dasar  permohonan  ijin  penyelenggaraan
komunikasi dan informatika.
23.  Penyediaan  Infrastruktur  adalah  kegiatan  yang  meliputi  pekerjaan
konstruksi  untuk  membangun  atau  meningkatkan  kemampuan
infrastruktur  dan/atau  kegiatan  pengelolaan  infrastruktur  dan/atau
pemeliharaan  infrastruktur  dalam  rangka  meningkatkan  kemanfaatan
infrastruktur informatika.
24.  Pos  adalah  layanan  komunikasi  tertulis  dan/atau  surat  elektronik,
layanan paket, layanan logistik, layanan transaksi keuangan, dan layanan
keagenan pos untuk kepentingan umum.
25.  Penyelenggaraan  jasa  titipan  adalah  kegiatan  yang  dilakukan  untuk
menerima,  membawa  dan/atau  menyampaikan  surat  pos  jenis  tertentu
berupa  barang  cetakan,  surat  kabar,  sekogram,  dan  bungkusan  kecil
paket dan uang dari pengirim kepada penerima dengan memungut biaya.
26.  Paket  adalah  kemasan  yang  berisi  barang  dengan  bentuk  dan  ukuran
tertentu.
27.  Kantor  pusat  adalah  penyelenggara  usaha  jasa  titipan  dengan  ruang
lingkup nasional.
28.  Kantor  cabang  adalah  kantor  pembantu  yang  menyelenggarakan  usaha
jasa titipan dan merupakan bagian dari kantor pusat.
29.  Kantor agen adalah kantor pembantu yang menyelenggarakan  usaha  jasa
titipan  atas  dasar  kerjasama  dengan  kantor  pusat  atau  cabang
penyelenggara jasa titipan.
30.  Warung  internet  yang  selanjutnya  disingkat  warnet  adalah
penyelenggaraan  jasa  telekomunikasi  atas  dasar  kesepakatan  usaha
menjual kembali jasa akses internet.
31.  Laman  Daring  (Website)  adalah  kumpulan  dari  halaman-halaman  situs,
yang  terangkum  dalam  sebuah  domain  atau  subdomain,  dan  tempatnya
berada di dalam world wide web (www) di internet.
32.  Nama  domain  adalah  alamat  internet  penyelenggara  negara,  pemerintah
daerah, orang, badan usaha  dan/atau masyarakat yang dapat digunakan
dalam  berkomunikasi  melalui  internet,  berupa  kode  atau  susunan
karakter  yang  bersifat  unik  untuk  menunjukkan  lokasi  tertentu  dalam
internet.
33.  Telekomunikasi  adalah  setiap  pemancaran,  pengiriman,  dan/atau
penerimaan  dari  setiap  informasi  dalam  bentuk  tanda-tanda,  isyarat,
tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau
sistem elektromagnetik lainnya.
34.  Jaringan telekomunikasi adalah rangkaian perangkat telekomunikasi dan
kelengkapannya yang digunakan dalam bertelekomunikasi.
35.  Jasa  telekomunikasi  adalah  layanan  telekomunikasi  untuk  memenuhi
kebutuhan  bertelekomunikasi  dengan  menggunakan  jaringan
telekomunikasi.
7
36.  Penyelenggara  telekomunikasi  adalah  perseorangan,  koperasi,  badan
usaha milik daerah, badan usaha milik negara, badan usaha milik swasta,
instansi pemerintah dan instansi pertahanan keamanan negara.
37.  Penyelenggaraan  telekomunikasi  adalah  kegiatan  penyediaan  dan
pelayanan  telekomunikasi  sehingga  memungkinkan  terselenggaranya
telekomunikasi.
38.  Penyelenggaraan  telekomunikasi  khusus  adalah  penyelenggaraan
telekomunikasi yang sifat, peruntukan, dan pengoperasiannya khusus.
39.  Penyiaran  adalah  kegiatan  memancarluaskan  siaran  melalui  sarana
pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa
dengan  menggunakan  spektrum  frekuensi  radio  melalui  udara,  kabel,
dan/atau  media  lainnya  untuk  dapat  diterima  secara  serentak  dan
bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.
40.  Penyiaran Televisi adalah media komunikasi massa dengar  pandang, yang
menyalurkan  gagasan,  informasi,  pendidikan  dan  hiburan  dalam  bentuk
suara  dan  gambar  secara  umum,  baik  terbuka  maupun  tertutup,  berupa
program yang teratur dan berkesinambungan.
41.  Pemancar  radio  adalah  alat  telekomunikasi  yang  menggunakan  dan
memancarkan gelombang radio.
42.  Data  center  adalah  suatu  fasilitas  yang  digunakan  untuk  menempatkan
sistem  komputer  dan  komponen-komponen  terkaitnya,  seperti  sistem
telekomunikasi dan penyimpanan data.
43.  Media  center  adalah  wahana  pelayanan  informasi  kebijakan  pemerintah
berbasis  teknologi  informasi  dan  komunikasi,  untuk  mendukung
pelaksanaan  tugas  lembaga  pemerintah  dan  daerah,  khususnya  dalam
penyebarluasan  informasi  untuk  kebutuhan  publik  dan  mengembangkan
pelayanan informasi kepada publik sebagai bagian dari upaya mendorong
masyarakat  dalam  mendapatkan  informasi  yang  akurat,  cepat,  mudah
dan terjangkau.
44.  Diseminasi informasi adalah penyebarluasan informasi kepada pihak yang
berkepentingan  (stakeholders),  agar  dapat  dilakukan  tindakan  secara
cepat dan tepat.
45.  Serat  optik  adalah  sejenis  media  dengan  karakteristik  khusus  yang
mampu  menghantarkan  data  melalui  gelombang  frekuensi  dengan
kapasitas yang sangat besar.
46.  Cyber  City  adalah  suatu  kota  yang  memiliki  infrastruktur  yang
mempunyai  sarana  dan  prasarana  teknologi  informasi  dan  komunikasi
yang lengkap baik kuantitas dan kualitasnya dari sistem yang digunakan
maupun keterpaduan komponen sistem yang ada dalam kota tersebut.
47.  Interoperabilitas  adalah  suatu  kemampuan  berbagai  ragam  sistem  atau
aplikasi untuk bekerja sama dan bisa berinteraksi dengan aplikasi lainnya
yang berbeda untuk memungkinkan terjadinya pertukaran data/informasi
melalui suatu metode yang disetujui bersama.
8
BAB II
ASAS, MAKSUD DAN TUJUAN
Pasal 2
Penyelenggaraan  komunikasi  dan  informatika  berdasarkan  asas  manfaat,  adil
dan  merata,  kepastian  hukum,  sinergi,  transparansi,  keamanan,  kemitraan,
etika, akuntabilitas dan partisipatif.
Pasal 3
Pengaturan  penyelenggaraan  komunikasi  dan  informatika  dimaksudkan
sebagai  upaya  penataan,  pembinaan,  pengawasan,  pengendalian  pada
pemanfaatan dan penyelenggaraan komunikasi dan informatika.
Pasal 4
Pengaturan  penyelenggaraan  komunikasi  dan  informatika  bertujuan  agar
pemanfaatan  dan  penyelenggaraan  jasa  media  komunikasi  dan  informatika
dapat  dilaksanakan  secara  positif,  berdayaguna,  berhasilguna  untuk
meningkatkan  kesejahteraan,  meningkatkan  harkat/martabat  masyarakat,
meningkatkan  pelayanan  publik  dan  menjamin  hak  masyarakat  untuk
mengetahui  rencana  pembuatan  kebijakan,  program  kebijakan,  proses  serta
alasan  pengambilan  keputusan  publik,  dengan  menggunakan  teknologi
komunikasi dan informatika.
BAB III
PENYELENGGARAAN E-GOVERNMENT
Bagian Kesatu
Rencana Induk e-Government
Pasal 5
(1)  Untuk  menunjang  penyelenggaraan  pelayanan  publik,  Pemerintah  Kota
menyusun  rencana  induk  e-government  yang  berisi  standardisasi  dan
perencanaan  umum  dalam  pelaksanaan  e-government  di  lingkungan
Pemerintah Kota untuk mewujudkan cyber city.
(2)  Rencana  induk  e-government  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)
ditetapkan  paling  lambat  2  (dua)  tahun  sejak  berlakunya  Peraturan
Daerah ini.
(3)  Rencana induk e-government meliputi:
a.  kerangka  pemikiran  dasar  lembaga  (e-government  conceptual
framework);
b.  cetak biru pengembangan (e-government blueprint);
c.  solusi pentahapan pengembangan (e-government roadmap);dan
d.  rencana implementasi (e-government implementation plan).
9
(4)  Pelaksanaan  e-government  ditindaklanjuti  oleh  setiap  OPD  sesuai  bidang
tugas  dan  fungsi  untuk  menunjang  pelayanan  publik,  yang  dilakukan
dengan ketentuan :
a.  terpadu,  terintegrasi  dan  mengacu  pada  rencana  induk  e-government
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
b.  sesuai dengan tugas dan fungsi OPD;dan
c.  mengedepankan partisipasi masyarakat.
Bagian Kedua
Ruang Lingkup e-Government
Pasal 6
Ruang  lingkup  penyelenggaraan  e-goverment  pada  Pemerintah  Kota
mencakup :
a.  hubungan  Pemerintah  Kota  dengan  lembaga  pemerintah  (Government  to
Government);
b.  hubungan  Pemerintah  Kota  dengan  pelaku  usaha  (Government  to
Bussines);dan
c.  hubungan Pemerintah Kota dengan masyarakat (Government to Citizen).
Bagian Ketiga
Keamanan Informasi e-Government
Pasal 7
(1)  Pemerintah  Kota  harus  mengelola  data  dalam  aplikasi  sistem  informasi
untuk  kepentingan  internal  dan  eksternal  dengan  memperhatikan
keamanan penerapan komunikasi dan informatika.
(2)  Aplikasi  yang  digunakan  untuk  pelaksanaan  e-government  harus
memenuhi  standar  interoperabilitas  dan  standar  keamanan  informasi
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3)  Aplikasi  yang  digunakan  untuk  pelaksanaan  e-government  pada
Pemerintah  Kota  harus  dapat  diperiksa  kesesuaian  fungsinya  melalui
proses audit.
(4)  Setiap  OPD  harus  memenuhi  standar  interoperabilitas  dan  integrasi
sistem melalui koordinasi dengan SKPD.
(5)  Ketentuan  lebih  lanjut  mengenai  keamanan  penerapan  komunikasi  dan
informatika ditetapkan dengan Peraturan Walikota.
BAB IV
PENYELENGGARAAN KOMUNIKASI
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 8
(1)  Pemerintah  Kota  melaksanakan  kegiatan  penyediaan  dan  pelayanan
komunikasi sehingga terselenggara komunikasi yang efektif.
10
(2)  Penyelenggaraan  komunikasi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1),
meliputi :
a.  sarana komunikasi dan penyebarluasan informasi;dan
b.  keterbukaan informasi publik.
Bagian Kedua
Sarana Komunikasi dan Penyebarluasan Informasi
Pasal 9
(1)  Pemerintah  Kota  melalui  SKPD  melaksanakan  penyebarluasan  informasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf a, menggunakan pola
koordinasi, kerjasama dan fasilitasi kegiatan.
(2)  Koordinasi  dan  kerjasama  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  adalah
dalam  rangka  perencanaan,  pelaksanaan,  dan  evaluasi  kegiatan
penyebarluasan informasi.
(3)  Fasilitasi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  dilaksanakan  dalam
rangka  pengembangan  dan  pemberdayaan  lembaga  komunikasi  dan
informasi di Kota.
(4)  Pola  koordinasi,  kerjasama  dan  fasilitasi  sebagaimana  dimaksud  pada
ayat (1) melalui :
a.  media massa;dan
b.  lembaga komunikasi sosial.
Pasal 10
(1)  Media  massa  sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  9  ayat  (4)  huruf  a,
adalah media cetak, media elektronik, dan/atau media lainnya.
(2)  Media  cetak  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1),  seperti  surat  kabar,
majalah, buku, buletin, leaflet, booklet, dan brosur.
(3)  Media  elektronik  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1),  seperti  radio,
televisi dan film.
(4)  Media lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), antara lain:
a.  media baru, seperti website (media online);
b.  media tradisional seperti pertunjukan rakyat;
c.  media inter personal seperti sarasehan, ceramah/diskusi,
lokakarya;dan/atau
d.  media  luar  ruang  berupa,  spanduk,  baliho,  billboard,  spotlight,
videotron, running-text dan banner serta media luar ruang lainnya yang
dilakukan atas dasar kebutuhan setempat.
Pasal 11
(1)  Lembaga komunikasi sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (4)
huruf  b,  merupakan  kelompok  komunikasi  dan  informasi  yang  dibentuk
dari  masyarakat  untuk  masyarakat  secara  mandiri  dan  kreatif  yang
aktivitasnya  melakukan  kegiatan  pengelolaan  dan  penyebarluasan
informasi serta pemantauan media.
11
(2)  Lembaga  komunikasi  sosial  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1),  antara
lain  lembaga  komunikasi  kelurahan,  lembaga  media  tradisional,  lembaga
pemantau media, dan lembaga komunikasi organisasi profesi.
(3)  Pemerintah  Kota  menyelenggarakan  pengembangan  dan  pemberdayaan
lembaga  komunikasi  sosial  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (2)  dalam
bentuk sebagai berikut:
a.  bimbingan teknis;
b.  pengembangan model;
c.  penyelenggaraan jaringan komunikasi;
d.  sarana dan prasarana;
e.  workshop, sarasehan, forum;
f.  penyediaan bahan-bahan informasi;
g.  simulasi aktivitas;
h.  kompetisi dan pemberian penghargaan bagi yang berprestasi secara
berkala;dan
i.  studi komparasi.
BAB V
PENYELENGGARAAN POS DAN TELEKOMUNIKASI
Bagian Kesatu
Penyelenggaraan Pos
Paragraf 1
Umum
Pasal 12
(1)  Penyelenggaraan pos berupa penyelenggaraan jasa titipan terdiri dari :
a.  kantor pusat dan kantor cabang;
b.  kantor agen.
(2)  Penyelenggaraan  jasa  titipan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1),
dilakukan oleh penyelenggara jasa titipan yang berbentuk badan hukum.
(3)  Dalam  rangka  pengawasan  dan  pengendalian,  penyelenggara  jasa  titipan
menyampaikan laporan kegiatan usahanya kepada Walikota melalui SKPD
setiap tahun.
Pasal 13
Penyelenggaraan jasa titipan bertanggung jawab terhadap :
a.  keamanan dan keselamatan atas kegiatan yang dilakukan;
b.  keterlambatan, hilang, atau rusak sebagian atau seluruh isi kiriman surat,
paket dan uang yang telah diserahkan;
c.  semua yang diperjanjikan dengan berbagai pihak dan menyelesaikan segala
tuntutan yang sah;
d.  segala  akibat  pengiriman  jasa  titipan  yang  menggunakan  dokumen  yang
telah diterbitkan;dan
e.  penyerahan  kiriman  jasa  titipan  yang  diurusnya  sesuai  dengan  syarat
umum yang berlaku bagi penyelenggara jasa titipan.
12
Paragraf 2
Jasa Titipan Kantor Pusat dan Kantor Cabang
Pasal 14
(1)  Penyelenggaraan  jasa  titipan  kantor  pusat  dan  kantor  cabang
sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  12  ayat  (1)  huruf  a   dapat
diselenggarakan setelah mendapat rekomendasi SKPD.
(2)  Rekomendasi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  berlaku  selama  5
(lima) tahun.
(3)  Rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap berlaku apabila :
a.  penyelenggara jasa titipan masih menjalankan kegiatan usahanya;
b.  masih memenuhi persyaratan;dan
c.  tidak melakukan pelanggaran atau penyimpangan terhadap peraturan
perundang-undangan.
Pasal 15
Persetujuan atau penolakan rekomendasi  sebagaimana dimaksud dalam Pasal
14 ayat (1)  diberikan secara tertulis dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari
kerja setelah permohonan diterima secara lengkap.
Paragraf 3
Jasa Titipan Kantor Agen
Pasal 16
(1)  Penyelenggaraan jasa titipan kantor agen wajib memiliki izin dari SKPD.
(2)  Persyaratan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sebagai berikut:
a.  mengajukan permohonan secara tertulis kepada SKPD;
b.  melengkapi persyaratan sebagai berikut melampirkan:
1.  foto  kopi  Kartu  Tanda  Penduduk  (KTP)  dan  foto  kopi  Kartu
Keluarga (KK) atau identitas lain yang masih berlaku bagi pemohon
perorangan;
2.  foto  kopi  akte  pendirian  perusahaan  berikut  perubahanperubahannya sampai dengan yang terakhir untuk Badan Usaha;
3.  foto kopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
4.  foto  kopi  izin  gangguan  yang  dikeluarkan  oleh  Pemerintah
Kota;dan
5.  foto  kopi  surat  perjanjian  kerjasama  antara  kantor  cabang
penyelenggaraan  jasa  titipan  dengan  kantor  agen  penyelenggaraan
jasa titipan.
(3)  Izin  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  berlaku  selama  5  (lima)  tahun
dan dapat diperpanjang.
13
Bagian Kedua
Penyelenggaraan Telekomunikasi
Paragraf 1
Usaha Jasa Warnet
Pasal 17
(1)  Skala usaha jasa warnet diklasifikasikan menjadi 3 (tiga), yaitu:
a.  usaha jasa warnet skala kecil;
b.  usaha jasa warnet skala menengah;dan
c.  usaha jasa warnet skala besar.
(2)  Kriteria  skala  usaha  jasa  warnet  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)
adalah:
a.  usaha  jasa  warnet  skala  kecil  memiliki  4  (empat)  unit  sampai  dengan
10 (sepuluh) unit komputer;
b.  usaha  jasa  warnet  skala  menengah  memiliki  11  (sebelas)  unit  sampai
dengan 30 (tiga puluh) unit komputer;dan
c.  usaha  jasa  warnet skala besar memiliki lebih dari 30  (tiga puluh) unit
komputer.
Pasal 18
(1)  Standardisasi  usaha  jasa  warnet  terdiri  dari  3  (tiga)  aspek,  sebagai
berikut :
a.  aspek perangkat lunak dan perangkat keras;
b.  aspek kenyamanan;dan
c.  aspek tanggung jawab sosial.
(2)  Kriteria  yang  harus  dipenuhi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf
a, sebagai berikut :
a.  menggunakan sistem operasi dan aplikasi pendukung yang legal;dan
b.  menyediakan  komputer,  printer,  scanner  dan  koneksi  internet  yang
layak.
(3)  Kriteria  yang  harus  dipenuhi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf
b, sebagai berikut :
a.  menggunakan  sekat  pembatas/bilik  komputer  yang  wajar,  tidak
terlalu tinggi dan atau tidak tertutup untuk memudahkan pengawasan
dan mencegah terjadinya penyalahgunaan fungsi;
b.  memiliki  penerangan  yang  memadai  dan  nyaman  untuk  mendukung
aktivitas di lingkungan warnet;
c.  memiliki  toilet,  saluran  pembuangan  limbah  dan  ketersediaan  air
bersih  dalam  jumlah  yang  memadai  dan  senantiasa  terjaga
kebersihannya;
d.  memiliki  pintu  masuk-keluar  yang  cukup  dan/atau  pintu  darurat
untuk  mengantisipasi  kebakaran  serta  memiliki  perangkat  pengaman
kebakaran yang memadai;dan
e.  jika  memungkinkan,  memiliki  area  bebas  rokok  yang  terpisah  dengan
area  perokok  serta  pada  area  perokok  difasilitasi  dengan  peralatan
sirkulasi udara yang proporsional.
14
(4)  Kriteria  yang  harus  dipenuhi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf
c, sebagai berikut :
a.  melakukan  upaya  pencegahan  eksploitasi  akses  Internet  yang
bertentangan dengan norma sosial, agama dan hukum;
b.  ikut  mendorong  peningkatan  pengetahuan  masyarakat  di  lingkungan
sekitarnya  tentang  pemanfaatan  Internet  yang  tepat  guna  dan
bertanggung jawab;
c.  melakukan  antisipasi  dampak  sosial  yang  mungkin  terjadi  akibat
penggunaan Internet di warnet secara proaktif;
d.  melarang  pelajar  untuk  beraktivitas  di  warnet  pada  jam  pelajaran
sekolah;
e.  dilarang untuk beroperasi 24 (dua puluh empat) jam;dan
f.  melakukan  penataan  parkir  kendaraan  sehingga  tidak  mengganggu
kenyamanan bagi pengguna lalu lintas.
(5)  Ketentuan  lebih  lanjut  mengenai  standardisasi  usaha  jasa  warnet  diatur
dalam Peraturan Walikota.
Pasal 19
(1)  Usaha jasa warnet wajib memiliki perizinan, sebagai berikut :
a.  rekomendasi teknis dari SKPD;
b.  Izin Gangguan;dan
c.  Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)/Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
(2)  Izin  Gangguan  dan  Surat  Izin  Usaha  Perdagangan  (SIUP)/Tanda  Daftar
Perusahaan (TDP) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf
c diterbitkan oleh SKPD yang membidangi pelayanan perizinan.
Paragraf 2
Layanan dan Usaha Jasa Jaringan Internet Hotspot
Pasal 20
Penyelenggaraan  layanan  dan  usaha  jasa  jaringan  internet  hotspot  wajib
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a.  menggunakan layanan  Internet Service Provider  dalam negeri yang memiliki
izin dari Menteri Komunikasi dan Informatika;
b.  menggunakan  jaringan  nirkabel  (atau  teknologi  wi-fi)  dengan  kemampuan
layanan yang maksimal;
c.  memperoleh rekomendasi kelayakan dari SKPD;dan
d.  memiliki  izin  usaha  dari  SKPD  yang  membidangi  pelayanan  perizinan  jika
dimanfaatkan untuk tujuan komersial.
Pasal 21
(1)  Layanan  dan  usaha  jasa  jaringan  internet  hotspot  wajib  memiliki
perizinan, sebagai berikut :
a.  rekomendasi teknis dari SKPD;
b.  Izin Gangguan;dan
c.  Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)/Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
(2)  Izin  Gangguan  dan  Surat  Izin  Usaha  Perdagangan  (SIUP)/Tanda  Daftar
Perusahaan (TDP) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf
c diterbitkan oleh SKPD yang membidangi pelayanan perizinan.
15
(3)  Layanan  dan  usaha  jasa  jaringan  internet  hotspot  yang  dimanfaatkan
untuk tujuan sosial dan pendidikan, tidak diwajibkan memiliki izin usaha.
Paragraf 3
Layanan Jasa Internet Service Provider dan
Voice over Internet Protocol (VoIP)
Pasal 22
(1)  Untuk dapat menyelenggarakan layanan jasa Internet Service Provider (ISP)
dan  VoIP,  orang  atau  badan  hukum  wajib  memenuhi  syarat-syarat
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.
(2)  Syarat-syarat lain yang harus dipenuhi berdasarkan peraturan daerah ini
meliputi:
a.  rekomendasi teknis dari SKPD;
b.  Izin Gangguan;dan
c.  Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)/Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
(3)  Izin  Gangguan  dan  Surat  Izin  Usaha  Perdagangan  (SIUP)/Tanda  Daftar
Perusahaan (TDP) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf
c diterbitkan oleh SKPD yang membidangi pelayanan perizinan.
Pasal 23
(1)  Setiap  penyelenggara  Internet  Service  Provider  (ISP)  dan  VoIP  wajib
melaporkan  perkembangan  usaha  dan  jumlah  pengguna  jasa  Internet
Service Provider (ISP) dan VoIP setiap 1 (satu) tahun sekali.
(2)  Laporan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  disampaikan  kepada
Walikota melalui Kepala SKPD.
Paragraf 4
Usaha Jasa Multimedia
Pasal 24
(1)  Usaha jasa multimedia meliputi:
a.  penjualan  perangkat  lunak  dan  perangkat  keras  penyuntingan  suara,
gambar  dan  video  yang  berbasis  teknologi  informasi  dan
komunikasi;dan
b.  layanan penyuntingan dan penggandaan gambar, suara dan video.
(2)  Usaha jasa  sebagaimana dimaksud  pada ayat (1) dapat  dilakukan sebagai
kegiatan dengan tempat terpisah dan/atau terpadu.
Pasal 25
(1)  Penyelenggara  usaha  jasa  multimedia  dapat  berbentuk  perorangan,
kelompok atau badan usaha.
(2)  Untuk  menjalankan  usaha  jasa  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1),
setiap penyelenggara wajib tunduk pada ketentuan  peraturan  perundangundangan.
16
Pasal 26
(1)  Usaha jasa multimedia wajib memiliki perizinan sebagai berikut :
a.  rekomendasi teknis dari SKPD;
b.  Izin Gangguan;dan
c.  Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)/Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
(2)  Izin  Gangguan  dan  Surat  Izin  Usaha  Perdagangan  (SIUP)/Tanda  Daftar
Perusahaan (TDP) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf
c diterbitkan oleh SKPD yang membidangi pelayanan perizinan.
Paragraf 5
Usaha Perdagangan Alat/Perangkat Telekomunikasi
Pasal 27
(1)  Usaha perdagangan alat/perangkat telekomunikasi  dikategorikan menjadi
3 (tiga) jenis meliputi:
a.  usaha skala kecil atau perorangan;
b.  usaha skala sedang;dan
c.  usaha skala besar.
(2)  Kriteria skala usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a.  usaha skala kecil memiliki 1  (satu)  orang sampai 2  (dua)  orang tenaga
kerja dengan luas tempat usaha maksimal 10 (sepuluh) meter persegi;
b.  usaha  skala  menengah  memiliki  3  (tiga)  orang  sampai  5  (lima)  orang
tenaga  kerja  dengan  luas  tempat  usaha  maksimal  11  (sebelas)  meter
persegi sampai 20 (dua puluh) meter persegi;dan
c.  usaha  skala  besar  memiliki  lebih  dari  5  (lima)  orang  tenaga  kerja
dengan luas tempat usaha lebih dari 20 (dua puluh) meter persegi.
(3)  Usaha perdagangan alat/perangkat telekomunikasi mencakup:
a.  penjualan alat/perangkat telekomunikasi;
b.  layanan jasa perbaikan perangkat telekomunikasi;dan/atau
c.  penjualan kartu perdana dan pulsa telepon selular.
Pasal 28
(1)  Setiap orang atau badan hukum yang bergerak dalam usaha perdagangan
alat/perangkat telekomunikasi wajib memiliki izin.
(2)  Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a.  rekomendasi teknis dari SKPD;
b.  Izin Gangguan;dan
c.  Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)/Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
(3)  Izin  Gangguan  dan  Surat  Izin  Usaha  Perdagangan  (SIUP)/Tanda  Daftar
Perusahaan (TDP) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf
c diterbitkan oleh SKPD yang membidangi pelayanan perizinan.
17
Paragraf 6
Usaha Permainan Daring (Game Online)
Pasal 29
(1)  Usaha  permainan  daring  (game  online)  dapat  diselenggarakan  bersama
atau terpisah dengan layanan usaha warnet.
(2)  Dalam hal usaha permainan daring (game online)  terpadu dengan layanan
warnet, maka dokumen perizinan dijadikan satu kesatuan.
(3)  Dalam  hal  usaha  permainan  daring  (game  online)  diselenggarakan  secara
khusus,  maka  dokumen  perizinan  mengikuti  ketentuan  perizinan
sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah ini.
Pasal 30
(1)  Skala  usaha  permainan  daring  (game  online)  dibagi  menjadi  3  (tiga),
meliputi:
a.  usaha permainan daring (game online) skala kecil;
b.  usaha permainan daring (game online) skala menengah;dan
c.  usaha permainan daring (game online) skala besar.
(2)  Kriteria  skala  usaha  permainan  daring  (game  online)  sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) adalah:
a.  usaha permainan daring (game online) skala kecil memiliki 2 (dua) unit
komputer sampai dengan 5 (lima) unit komputer;
b.  usaha  permainan  daring  (game  online)  skala  menengah  memiliki  6
(enam)  unit  komputer  sampai  dengan  15  (lima  belas)  unit
komputer;dan
c.  usaha  permainan  daring  (game  online)  skala  besar  memiliki  lebih  dari
15 (lima belas) unit komputer.
Pasal 31
(1)  Standardisasi  usaha  permainan  daring  (game  online)  terdiri  dari  3  (tiga)
aspek, sebagai berikut :
a.  aspek perangkat lunak dan perangkat keras;
b.  aspek kenyamanan;dan
c.  aspek tanggung jawab sosial.
(2)  Kriteria  yang  harus  dipenuhi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf
a, sebagai berikut :
a.  menggunakan sistem operasi yang legal;
b.  menggunakan aplikasi permainan yang legal;dan
c.  menyediakan  komputer  dengan  spesifikasi  dan  koneksi  internet  yang
layak.
(3)  Kriteria  yang  harus  dipenuhi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf
b, sebagai berikut :
a.  menggunakan  sekat  pembatas/bilik  komputer  yang  wajar,  tidak
terlalu  tinggi  dan/atau  tidak  tertutup  untuk  memudahkan
pengawasan dan mencegah terjadinya penyalahgunaan fungsi;
b.  memiliki  penerangan  yang  memadai  dan  nyaman  untuk  mendukung
aktivitas di lingkungan usaha permainan daring (game online);
18
c.  memiliki  toilet,  saluran  pembuangan  limbah  dan  ketersediaan  air
bersih  dalam  jumlah  yang  memadai  dan  senantiasa  terjaga
kebersihannya;
d.  memiliki  pintu  masuk-keluar  yang  cukup  dan/atau  pintu  darurat
untuk  mengantisipasi  kebakaran  serta  memiliki  perangkat  pengaman
kebakaran yang memadai;dan
e.  jika  memungkinkan,  memiliki  area  bebas  rokok  yang  terpisah  dengan
area  perokok  serta  pada  area  perokok  difasilitasi  dengan  peralatan
sirkulasi udara yang proporsional.
(4)  Kriteria  yang  harus  dipenuhi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf
c, sebagai berikut :
a.  melakukan  upaya  pencegahan  eksploitasi  permainan  daring  (game
online) yang bertentangan dengan norma sosial, agama dan hukum;
b.  ikut  mendorong  peningkatan  pengetahuan  masyarakat  di  lingkungan
sekitarnya  tentang  pemanfaatan  Internet  yang  tepat  guna  dan
bertanggung jawab;
c.  melakukan  antisipasi  dampak  sosial  yang  mungkin  terjadi  akibat
penggunaan permainan daring (game online) secara proaktif;
d.  melarang pelajar untuk beraktivitas di permainan daring (game online)
pada jam sekolah;
e.  dilarang untuk beroperasi 24 jam;
f.  melakukan  penataan  parkir  kendaraan  sehingga  tidak  mengganggu
kenyamanan bagi pengguna lalu lintas;dan
g.  mencegah  semaksimal  mungkin  penyalahgunaan  permainan  daring
(game online) menjadi sarana perjudian.
Pasal 32
(1)  Usaha permainan daring wajib memiliki perizinan, sebagai berikut :
a.  rekomendasi teknis dari SKPD;
b.  Izin Gangguan;dan
c.  Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)/Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
(2)  Izin  Gangguan  dan  Surat  Izin  Usaha  Perdagangan  (SIUP)/Tanda  Daftar
Perusahaan (TDP) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf
c diterbitkan oleh SKPD yang membidangi pelayanan perizinan.
Paragraf 7
Penyelenggara Instalatur Kabel Rumah/Gedung (IKR/IKG)
Pasal 33
(1)  Penyelenggara  instalatur  Instalasi  Kabel  Rumah  (IKR)/Instalasi  Kabel
Gedung (IKG) meliputi:
a.  instalatur kabel dalam rumah;dan
b.  instalatur kabel dalam gedung.
(2)  Penyelenggara  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  dapat  dilakukan
sebagai kegiatan dengan tempat terpisah dan/atau terpadu.
Pasal 34
(1)  Penyelenggara  instalatur  Instalasi  Kabel  Rumah  (IKR)/Instalasi  Kabel
Gedung (IKG) dapat berbentuk koperasi, Perseroan Terbatas dan CV.
19
(2)  Untuk menjalankan usaha dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
setiap penyelenggara wajib tunduk pada ketentuan  peraturan  perundangundangan.
Pasal 35
(1)  Penyelenggara instalatur IKR/IKG wajib memiliki izin dari SKPD.
(2)  Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh dengan cara :
a.  mengajukan permohonan secara tertulis kepada SKPD;
b.  melengkapi persyaratan sebagai berikut:
1.  foto copy akte pendirian perusahaan;
2.  foto copy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);dan
3.  surat  pernyataan  memiliki  sekurang-kurangnya  3  (tiga)  orang
instalatur.
(3)  Izin  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  berlaku  selama  2  (dua)  tahun
dan dapat diperpanjang.
Paragraf 8
Layanan Operator Telekomunikasi
Pasal 36
(1)  Layanan operator telekomunikasi meliputi:
a.  kantor cabang operator telekomunikasi;dan
b.  loket operator telekomunikasi.
(2)  Layanan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  dapat  dilakukan  sebagai
kegiatan dengan tempat terpisah dan/atau terpadu.
Pasal 37
(1)  Layanan  operator  telekomunikasi  wajib  memiliki  perizinan,  sebagai
berikut:
a.  rekomendasi teknis dari SKPD;
b.  Izin Gangguan;dan
c.  Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)/Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
(2)  Izin  Gangguan  dan  Surat  Izin  Usaha  Perdagangan  (SIUP)/Tanda  Daftar
Perusahaan  (TDP)  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf  a
diterbitkan oleh SKPD yang membidangi pelayanan perizinan.
Paragraf 9
Penggelaran Kabel Telekomunikasi
Pasal 38
(1)  Penggelaran kabel telekomunikasi meliputi:
a.  kabel telekomunikasi bawah tanah (gali tanam);dan
b.  kabel telekomunikasi atas tanah (tambat gantung).
(2)  Penggelaran  kabel  telekomunikasi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)
dapat dilakukan sebagai kegiatan yang terpisah dan/atau terpadu.
20
(3)  Pemerintah  Kota  dapat  menyediakan  prasarana  untuk  penggelaran  kabel
telekomunikasi.
(4)  Prasarana sebagaimana dimaksud  pada  ayat (3) dapat dimanfaatkan oleh
penyelenggara kabel telekomunikasi.
(5)  Ketentuan  penyediaan  dan  pemanfaatan  prasarana  untuk  penggelaran
kabel  telekomunikasi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (3)  dan  ayat  (4)
diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.
Pasal 39
(1)  Penyelenggara penggelaran kabel telekomunikasi, berbentuk badan usaha.
(2)  Untuk menjalankan usaha dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
setiap penyelenggara wajib tunduk pada ketentuan  peraturan  perundangundangan.
Pasal 40
(1)  Penyelenggara penggelaran kabel telekomunikasi wajib memiliki perizinan,
sebagai berikut :
a.  rekomendasi teknis penggelaran kabel telekomunikasi dari SKPD;
b.  izin  galian  bagi  penyelenggaraan  kabel  gali  tanam  dari  SKPD  yang
membidangi pekerjaan umum;dan
c.  Izin Gangguan dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)/Tanda Daftar
Perusahaan (TDP).
(2)  Izin  Gangguan  dan  Surat  Izin  Usaha  Perdagangan  (SIUP)/Tanda  Daftar
Perusahaan  (TDP)  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf  c
diterbitkan oleh SKPD yang membidangi pelayanan perizinan.
Paragraf 10
Pembangunan Menara Telekomunikasi
Pasal 41
(1)  Pembangunan  menara  telekomunikasi  khusus  dan  transmisi  jaringan
utama meliputi:
a.  pembangunan menara telekomunikasi bersama;
b.  pembangunan menara telekomunikasi khusus;dan
c.  pembangunan menara telekomunikasi lainnya.
(2)  Pembangunan  menara  telekomunikasi  bersama  sebagaimana  dimaksud
pada ayat (1) huruf a diatur dalam Peraturan Daerah tersendiri.
(3)  Pembangunan  menara  telekomunikasi  khusus  sebagaimana  dimaksud
pada  ayat  (1)  huruf  b  memerlukan  kriteria  khusus  seperti  untuk
kepentingan  meteorologi  dan  geofisika,  televisi,  siaran  radio,  navigasi
penerbangan,  pencarian  dan  pertolongan  kecelakaan,  amatir  radio
komunikasi  antar  penduduk  dan  penyelenggara  telekomunikasi  khusus
instansi pemerintah.
(4)  Pembangunan  menara  telekomunikasi  lainnya  sebagaimana  dimaksud
pada  ayat  (1)  huruf  c  termasuk  menara  untuk  keperluan  transmisi
jaringan  utama  (backbone),  menara  kamuflase,  menara  microcell  dan
perangkat telekomunikasi sejenis.
21
(5)  Pembangunan  menara  telekomunikasi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat
(1) mencakup area Kota.
Pasal 42
(1)  Penyelenggara pembangunan menara sebagaimana dimaksud dalam Pasal
41,  dapat  berbentuk  perorangan  atau  kelompok  atau  badan  usaha  atau
instansi pemerintah.
(2)  Untuk  menyelengarakan  pembangunan  menara  sebagaimana  dimaksud
pada  ayat  (1),  setiap  penyelenggara  wajib  tunduk  pada  ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 43
(1)  Pembangunan  menara  telekomunikasi  khusus  dan  menara
telekomunikasi lainnya wajib memiliki perizinan, sebagai berikut :
a.  rekomendasi teknis dari SKPD;dan
b.  Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Izin Gangguan.
(2)  Izin  Mendirikan  Bangunan  (IMB)  dan  Izin  Gangguan  sebagaimana
dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf  b  diterbitkan  oleh  SKPD  yang  membidangi
pelayanan perizinan.
Paragraf 11
Instalasi Penangkal Petir
pada Menara Telekomunikasi
Pasal 44
(1)  Penyelenggara instalasi penangkal petir, berbentuk badan usaha.
(2)  Untuk  menyelenggarakan  instalasi  penangkal  petir  sebagaimana
dimaksud  pada  ayat  (1),  setiap  penyelenggara  wajib  tunduk  pada
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 45
(1)  Pemasangan  Instalasi  penangkal  petir  wajib  memiliki  perizinan,  sebagai
berikut :
a.  izin instalasi penangkal petir dari SKPD;dan
b.  Izin Gangguan dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)/Tanda Daftar
Perusahaan (TDP).
(2)  Izin instalasi penangkal petir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
melekat pada Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menara telekomunikasi.
(3)  Izin  Mendirikan  Bangunan  (IMB)  menara  telekomunikasi,  Izin  Gangguan
dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)/Tanda Daftar Perusahaan (TDP)
sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  dan  ayat  (2)  diterbitkan  oleh  SKPD
yang membidangi pelayanan perizinan.
22
Paragraf 12
Instalasi Genset pada Menara Telekomunikasi
Pasal 46
(1)  Penyelenggara instalasi genset, berbentuk badan usaha.
(2)  Untuk  menyelenggarakan  instalasi  genset  sebagaimana  dimaksud  pada
ayat  (1),  setiap  penyelenggara  wajib  tunduk  pada  ketentuan  peraturan
perundang-undangan.
Pasal 47
(1)  Pemasangan Instalasi genset wajib memiliki perizinan, sebagai berikut :
a.  izin instalasi genset dari SKPD;dan
b.  Izin Gangguan dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)/Tanda Daftar
Perusahaan (TDP).
(2)  Untuk  mendapatkan  izin  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf  a
wajib mendapatkan rekomendasi teknis dari SKPD.
(3)  Izin instalasi genset sebagaimana dimaksud  pada ayat (1) huruf b melekat
pada Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menara telekomunikasi.
(4)  Izin  Mendirikan  Bangunan  (IMB)  menara  telekomunikasi,  Izin  Gangguan
dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)/Tanda Daftar Perusahaan (TDP)
sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  dan  ayat  (2)  diterbitkan  oleh  SKPD
yang membidangi pelayanan perizinan.
BAB VI
PENGATURAN KHUSUS WARNET
DAN/ATAU PERMAINAN DARING
Bagian Kesatu
Lokasi dan Asosiasi
Pasal 48
(1)  Untuk  menjamin  kenyamanan  berusaha,  lokasi  satu  warnet  dan/atau
permainan  daring  dengan  warnet  dan/atau  permainan  daring  lainnya
minimal berjarak 100 (seratus) meter.
(2)  Untuk  menghindari  persaingan  usaha  yang  tidak  sehat  di  antara
penyelenggara  usaha  dan  jasa  warnet  dan/atau  permainan  daring,
disarankan untuk membentuk asosiasi.
(3)  Asosiasi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (2)  adalah  sebagai  wadah
bersama  untuk  mengontrol  penetapan  tarif  usaha  dan  jasa  warnet
dan/atau  permainan  daring  serta  sebagai  forum  saling  tukar  informasi
tentang perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
23
Bagian Kedua
Sistem Keamanan dan Perlindungan Masyarakat
Pasal 49
(1)  Guna  menjamin  keamanan,  kenyamanan,  keselamatan  masyarakat  pada
umumnya  dan  pengguna  layanan  daring  (atau  online)  khususnya,  serta
mengatasi  penyalahgunaan  internet  untuk  tujuan  kejahatan,  setiap
penyelenggara  warnet  dan/atau  permainan  daring  wajib
mendokumentasikan  dan  menyimpan  data  atau  log  aktivitas  pengguna
yang meliputi nama pengguna dan waktu penggunaan.
(2)  Guna  menjamin  keamanan  dan  kenyamanan  pengguna  layanan  luring
(atau  offline),  serta  memberikan  layanan  kearsipan,  setiap  penyelenggara
jasa  secara  luring  wajib  mendokumentasikan  dan  menyimpan  data  atau
log aktivitas layanan.
(3)  Dokumentasi dan penyimpanan data sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) dapat berupa data, gambar, suara dan video.
Pasal 50
Penyimpanan  data  atau  log  sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  49  sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB VII
PENYELENGGARAAN PENYIARAN
Bagian Kesatu
Televisi Berlangganan
Paragraf 1
Penyelenggaraan Televisi Berlangganan
Pasal 51
(1)  Usaha  penyelenggaraan  televisi  berlangganan  adalah  penyelenggaraan
penyiaran berlangganan yang meliputi:
a.  menggunakan media satelit;
b.  menggunakan media terestrial;dan
c.  menggunakan media kabel.
(2)  Usaha  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  dapat  dilakukan  sebagai
kegiatan  dengan  tempat  terpisah  dan/atau  terpadu  dengan
penyelenggaraan usaha Internet Service Provider (ISP).
Pasal 52
(1)  Dalam  menjalankan  usaha  penyelenggaraan  televisi  berlangganan,
penyelenggara adalah berbentuk Perseroan Terbatas (PT).
(2)  Untuk menjalankan usaha dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
setiap penyelenggara wajib tunduk pada  ketentuan  peraturan  perundangundangan.
24
Paragraf 2
Perizinan Televisi Berlangganan
Pasal 53
(1)  Penyelenggaraan televisi berlangganan dengan menggunakan media kabel
wajib  memperoleh  Izin  Penyelenggaraan  Penyiaran  (IPP)  dari  Menteri
Komunikasi  dan  Informatika  melalui  Komisi  Penyiaran  Indonesia  Daerah
(KPID) Jawa Barat.
(2)  Izin  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  harus  memenuhi  kriteria
penyelenggaraan  penyiaran  sebagaimana  diatur  dalam  ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3)  Sebelum  mengajukan  izin  penyelenggaraan  penyiaran  sebagaimana
dimaksud  pada  ayat  (1)  dan  ayat  (2),  penyelenggara  wajib  mendapatkan
rekomendasi kelayakan administrasi dan data teknis serta izin.
(4)  Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:
a.  rekomendasi kelengkapan administrasi dan data teknis;
b.  izin lokasi studio dan/atau stasiun pemancar siaran;
c.  Izin Gangguan;
d.  Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);dan/atau
e.  Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
(5)  Rekomendasi dan izin lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a
dan huruf b dikeluarkan oleh SKPD.
(6)  Izin  Gangguan,  Surat  Izin  Usaha  Perdagangan  (SIUP)/Tanda  Daftar
Perusahaan  (TDP)  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (4)  huruf  c,  huruf  d
dan huruf e diterbitkan oleh SKPD yang membidangi pelayanan perizinan.
Bagian Kedua
Radio dan Televisi Swasta
Paragraf 1
Penyelenggaraan Radio dan Televisi Swasta
Pasal 54
(1)  Usaha  penyelenggaraan  penyiaran  radio  swasta  atau  televisi  swasta
adalah  penyelenggaraan  penyiaran  yang  diselenggarakan  oleh  badan
usaha swasta meliputi:
a.  menggunakan media satelit;
b.  menggunakan media terestrial;dan
c.  menggunakan media kabel.
(2)  Usaha  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  bisa  dilakukan  sebagai
kegiatan  dengan  tempat  terpisah  dan/atau  terpadu  dengan
penyelenggaraan usaha Internet Service Provider (ISP).
Pasal 55
(1)  Dalam  menjalankan  usaha  penyelenggaraan  penyiaran  radio  swasta  dan
televisi swasta, penyelenggara adalah berbentuk Perseroan Terbatas (PT).
25
(2)  Untuk menjalankan usaha dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
setiap penyelenggara wajib tunduk pada  ketentuan  peraturan  perundangundangan.
Paragraf 2
Perizinan Penyiaran Radio dan Televisi Swasta
Pasal 56
(1)  Penyelenggaraan  radio  swasta  dan  televisi  swasta  wajib  memperoleh  Izin
Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) dari Menteri Komunikasi dan Informatika
melalui Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat.
(2)  Izin  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  harus  memenuhi  kriteria
penyelenggaraan penyiaran sebagaimana diatur oleh  ketentuan  peraturan
perundang-undangan.
(3)  Sebelum  mengajukan  izin  penyelenggaraan  penyiaran  sebagaimana
dimaksud  pada  ayat  (1)  dan  ayat  (2),  penyelenggara  wajib  mendapatkan
rekomendasi kelayakan administrasi dan data teknis serta izin.
(4)  Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:
a.  Rekomendasi kelengkapan administrasi dan data;
b.  izin lokasi studio dan/atau stasiun pemancar siaran;
c.  Izin Gangguan;
d.  Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);dan/atau
e.  Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
(5)  Rekomendasi dan izin lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a
dan huruf b dikeluarkan oleh SKPD.
(6)  Izin  Gangguan,  Surat  Izin  Usaha  Perdagangan  (SIUP)/Tanda  Daftar
Perusahaan  (TDP)  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (4)  huruf  c,  huruf  d
dan huruf e diterbitkan oleh SKPD yang membidangi pelayanan perizinan.
Bagian Ketiga
Televisi dan Radio Komunitas
Paragraf 1
Penyelenggaraan Televisi dan Radio Komunitas
Pasal 57
Penyelenggaraan  penyiaran  televisi  dan  radio  komunitas  adalah
penyelenggaraan penyiaran yang diselenggarakan untuk melayani kepentingan
suatu komunitas dengan menggunakan media seperti:
a.  menggunakan media satelit;
b.  menggunakan media terestrial;dan
c.  menggunakan media kabel.
Pasal  58
(1)  Penyelenggara  penyiaran  televisi  dan  radio  komunitas  adalah  badan
hukum  resmi  berbentuk  yayasan  atau  organisasi  sosial,  organisasi
keagamaan,  organisasi  profesi,  lembaga  pendidikan,  organisasi  politik
atau organisasi kemasyarakatan lainnya.
26
(2)  Untuk menyelenggarakan penyiaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
setiap penyelenggara wajib tunduk pada ketentuan  peraturan  perundangundangan.
Paragraf 2
Perizinan Televisi dan Radio Komunitas
Pasal 59
(1)  Penyelenggaraan  penyiaran  televisi  dan  radio  komunitas  wajib
memperoleh  Izin  Penyelenggaraan  Penyiaran  (IPP)  dari  Menteri
Komunikasi  dan  Informatika  melalui  Komisi  Penyiaran  Indonesia  Daerah
(KPID) Jawa Barat.
(2)  Izin  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  harus  memenuhi  kriteria
penyelenggaraan penyiaran komunitas sebagaimana diatur oleh ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3)  Sebelum  mengajukan  izin  penyelenggaraan  penyiaran  sebagaimana
dimaksud  pada  ayat  (1)  dan  ayat  (2),  penyelenggara  wajib  mendapatkan
rekomendasi kelayakan administrasi dan data teknis serta izin.
(4)  Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:
a.  rekomendasi kelengkapan administrasi dan data;
b.  izin lokasi studio dan/atau stasiun pemancar siaran;dan
c.  Izin Gangguan.
(5)  Rekomendasi dan izin lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a
dan huruf b dikeluarkan oleh SKPD.
(6)  Izin  Gangguan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (4)  huruf  c  diterbitkan
oleh SKPD yang membidangi pelayanan perizinan.
BAB VIII
PENGGUNAAN PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK USAHA DAN
JASA DI BIDANG KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Pasal 60
Setiap  usaha  dan  jasa  di  bidang  komunikasi  dan  informatika  wajib
memanfaatkan perangkat keras yang diperoleh secara legal dengan bukti-bukti
pembelian atau bukti perolehan sah lainnya.
Pasal 61
Dalam  hal   penggunaan  perangkat  lunak,  setiap  komputer  untuk   usaha  dan
jasa  di  bidang  komunikasi  dan  informatika  wajib  menggunakan  perangkat
lunak legal dengan bukti pembelian dan/atau bukti kepemilikan sah lainnya.
27
Pasal 62
Guna menjamin kenyamanan dan keamanan penyelenggaraan usaha dan jasa
di bidang komunikasi dan informatika, penyelenggara wajib memasang aplikasi
anti aplikasi terlarang, meliputi:
a.  internet  security  (keamanan  internet  yang  mencakup  antivirus,  antispam,
antispyware  dan  lain-lain)  yang  dapat  diperbaharui  (update)  setiap  waktu
sesuai ketentuan penerbit aplikasi;
b.  antivirus  berlisensi  dan  dapat  diperbaharui  secara  berkala  untuk  setiap
komputer  usaha  dan  jasa  di  bidang  komunikasi  dan  informatika  yang
dijalankan secara luring (atau offline);
c.  setiap  unit  komputer  klien  yang  dijalankan  secara  daring  wajib  dipasang
aplikasi anti program dan/atau anti situs terlarang;
d.  program  dan/atau  situs  terlarang  sebagaimana  dimaksud  pada  huruf  c
meliputi:
1.  program  dan/atau  situs  informasi  elektronik  dan/atau  dokumen
elektronik  yang  memiliki  muatan  yang  melanggar  kesusilaan  atau
pornografi;dan/atau
2.  program  dan/atau  situs  Informasi  elektronik  dan/atau  dokumen
elektronik yang memiliki muatan perjudian;dan/atau
3.  program  dan/atau  situs  informasi  elektronik  dan/atau  dokumen
elektronik  yang  memiliki  muatan  penghinaan  dan/atau  pencemaran
nama baik;dan/atau
4.  program  dan/atau  situs  informasi  elektronik  dan/atau  dokumen
elektronik  yang  memiliki  muatan  pemerasan  dan/atau
pengancaman;dan/atau
5.  program  dan/atau  situs  informasi  elektronik  dan/atau  dokumen
elektronik  yang  memiliki  muatan  penipuan  dan  pencurian  identitas
(atau scam and pishing);dan
e.  pemasangan  aplikasi  sebagaimana  dimaksud  pada  huruf  c  disarankan
menggunakan  aplikasi  yang  direkomendasikan  oleh  Kementerian
Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.
BAB IX
MEDIA CENTER
Pasal 63
(1)  Pemerintah  Kota  harus  membentuk  Media  Center  yang  merupakan  pusat
pelayanan  informasi  publik  untuk  memenuhi  hak  masyarakat  sesuai
tuntutan  undang-undang  keterbukaan  informasi  publik  dan
mengakomodasi  aspirasi  masyarakat  dalam  proses  perumusan  kebijakan
publik.
(2)  Setiap  OPD  harus  mendayagunakan  dan  melakukan  penguatan  lembaga
media center sebagai wahana pelayanan komunikasi publik.
28
BAB X
PENYELENGGARAAN SISTEM ELEKTRONIK
Pasal 64
(1)  Penyelenggara  sistem  elektronik  adalah  setiap  orang,  penyelenggara
negara,  badan  usaha  dan  masyarakat  yang  menyediakan,  mengelola
dan/atau  mengoperasikan  sistem  elektronik  secara  sendiri-sendiri
maupun  bersama-sama  kepada  pengguna  sistem  elektronik  untuk
keperluan dirinya dan/atau keperluan pihak lain.
(2)  Penyelenggara  sistem  elektronik  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)
wajib menjamin:
a.  tersedianya  perjanjian  tingkat  layanan  dalam  perolehan,  penggunaan,
dan  pemanfaatan  data  pribadi  berdasarkan  persetujuan  pemilik  data
pribadi;
b.  tersedianya  perjanjian  keamanan  informasi  terhadap  jasa  layanan
teknologi  informasi  yang  digunakan  dalam  penggunaan  atau
pengungkapan  data  dilakukan  berdasarkan  persetujuan  dari  pemilik
data pribadi tersebut;
c.  keamanan  informasi  dalam  menjaga  rahasia,  keutuhan,  dan
ketersediaan  data  pribadi  yang  dikelolanya  dan  sarana  komunikasi
internal yang diselenggarakan;dan
d.  setiap  komponen  dan  keterpaduan  seluruh  sistem  beroperasi
sebagaimana mestinya.
(3)  Penyelenggara  sistem  elektronik  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)
wajib  menerapkan  manajemen  risiko  terhadap  kerusakan  atau  kerugian
yang ditimbulkan.
BAB XI
KEMITRAAN
Pasal 65
(1)  Pemerintah  Kota  dapat  bekerjasama  dengan  pihak-pihak  terkait  dalam
pengelolaan data tingkat Kota.
(2)  Untuk  mendorong  pelaksanaan  riset  bidang  komunikasi  dan  informatika,
Pemerintah  Kota  dapat  mengembangkan  kemitraan  dengan  perguruan
tinggi  dalam  pengembangan  sumber  daya  manusia  serta  badan  usaha
bidang komunikasi dan informatika.
(3)  Pemerintah  Kota  dapat  bekerjasama  dengan  badan  usaha  dalam
penyediaan  infrastruktur  bidang  komunikasi  dan  informatika,  sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
29
BAB XII
PERAN SERTA MASYARAKAT DAN DUNIA USAHA
Pasal 66
(1)  Peran  serta  masyarakat  dan  dunia  usaha  dalam  penyelenggaraan
komunikasi dan informatika adalah:
a.  memberikan  dukungan  terhadap  pemanfaatan  dan  pengembangan  di
bidang komunikasi dan informatika;
b.  memberikan  informasi  yang  dapat  dimanfaatkan  oleh  Pemerintah
Kota;dan
c.  meningkatkan nilai ekonomis dari pemanfaatan dan pengembangan  di
bidang komunikasi dan informatika.
(2)  Peran  serta  masyarakat  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  dapat
dilakukan secara perorangan maupun kelompok.
BAB XIII
PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
Bagian Kesatu
Pembinaan
Pasal 67
(1)  Pembinaan  penyelenggaraan  komunikasi  dan  informatika  dilaksanakan
oleh  SKPD  secara  berkala  melalui  pemberian  bimbingan  dan  supervisi,
pendidikan dan pelatihan dan evaluasi penyelenggaraan.
(2)  Pembinaan penyelenggaraan komunikasi dan informatika, meliputi :
a.  pemanfaatan  infrastruktur  jaringan  telematika,  piranti  lunak  dan
konten  data  dan  informasi  serta  sumberdaya  manusia  pengelola  di
bidang komunikasi dan informatika;
b.  penyelenggaraan e-government;
c.  penyelenggaraan  fungsi  pos  dan  telekomunikasi  sesuai  urusan
Pemerintah Kota;
d.  penyelenggaraan penyiaran sesuai urusan Pemerintah Kota;
e.  penyediaan dan pengelolaan sarana komunikasi dan informatika;dan
f.  diseminasi informasi di lingkungan Pemerintah Kota.
Bagian Kedua
Pengawasan dan Pengendalian
Pasal 68
(1)  Pengawasan  dan  pengendalian  penyelenggaraan  komunikasi  dan
informatika  dilaksanakan  oleh SKPD bersama-sama dengan Satuan Polisi
Pamong  Praja  dan  instansi  terkait  lainnya  sesuai  urusan,  berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan, meliputi :
a.  preventif;dan
b.  represif.
30
(2)  Upaya preventif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi:
a.  pembinaan kesadaran hukum aparatur dan masyarakat;
b.  peningkatan profesionalisme aparatur pelaksana;dan
c.  peningkatan peran dan fungsi pelaporan.
(3)  Upaya  represif  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf  b  meliputi
tindakan  penertiban  dan  penegakan  hukum,  sesuai  ketentuan  peraturan
perundang-undangan.
Pasal 69
Masyarakat  secara  perorangan,  kelompok  maupun  organisasi,  dapat  ikut
melakukan  pengawasan  terhadap  penyelenggaraan  komunikasi  dan
informatika sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB XIV
SANKSI
Pasal 70
Penyelenggara  komunikasi  dan  informatika  yang  tidak  memiliki  perizinan
dan/atau  yang  terlambat  melakukan  perpanjangan  izin  dikenakan  sanksi,
dengan ketentuan sebagai berikut:
a.  SKPD melakukan teguran tertulis secara layak sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
b.  apabila  teguran  tertulis  sebagaimana  dimaksud  pada  huruf  a  tidak
mendapat  tanggapan,  maka  dilakukan  verifikasi  atau  kunjungan
lapangan;dan
c.  apabila dalam pelaksanaan verifikasi atau kunjungan lapangan diperlukan
dukungan  instansi  terkait  dan/atau  kepolisian,  SKPD  berkoordinasi
dengan  instansi  terkait  dan/atau  kepolisian  untuk  melakukan  penutupan
usaha  dan  jasa  komunikasi  dan  informatika  atau  pembongkaran  paksa
instalasi pos atau telekomunikasi sampai seluruh ketentuan dipenuhi.
BAB XV
KETENTUAN PIDANA
Pasal 71
(1)  Setiap  orang  atau  badan  usaha  yang  melanggar  ketentuan-ketentuan
Peraturan  Daerah  ini,  dipidana  dengan  pidana  kurungan  paling  lama  3
(tiga)  bulan  atau  denda  paling  banyak  Rp50.000.000,00  (lima  puluh  juta
rupiah).
(2)  Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.
(3)  Denda  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  merupakan  penerimaan
daerah.
(4)  Jika  pelanggaran  terhadap  ketentuan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat
(1)  oleh  Undang-Undang  dinyatakan  sebagai  pelanggaran  atau  kejahatan,
maka dipidana sesuai ketentuan undang-undang yang bersangkutan.
31
BAB XVI
PENYIDIKAN
Pasal 72
(1)  Penyidikan terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal  71
dilaksanakan  oleh  PPNS  di  lingkungan  Pemerintah  Kota  yang
pengangkatannya  ditetapkan  berdasarkan  ketentuan  peraturan
perundang-undangan.
(2)  Wewenang  PPNS  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  adalah  sebagai
berikut :
a.  menerima  laporan  atau  pengaduan  dari  seseorang  tentang  adanya
tindak pidana;
b.  melakukan  tindakan  pertama  pada  saat  itu  di  tempat  kejadian  dan
melakukan pemeriksaan;
c.  menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal
diri tersangka;
d.  melakukan penyitaan benda dan atau surat;
e.  mengambil sidik jari dan memotret tersangka;
f.  memanggil  orang  untuk  didengar  dan  diperiksa  sebagai  saksi  atau
tersangka;
g.  mendatangkan  ahli  yang  diperlukan  dalam  hubungannya  dengan
pemeriksaan perkara;
h.  mengadakan  penghentian  penyidikan  setelah  mendapat  petunjuk  dari
penyidik  umum  tidak  terdapat  cukup  bukti  atau  peristiwa  tersebut
bukan  merupakan  tindak  pidana  dan  selanjutnya  melalui  penyidik
umum  memberitahukan  hal  tersebut  kepada  penuntut  umum,
tersangka atau keluarganya;dan
i.  mengadakan  tindakan  lain  menurut  hukum  yang  dapat
dipertanggungjawabkan.
(3)  PPNS  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  dalam  melaksanakan
tugasnya sebagai penyidik berada di bawah koordinasi penyidik Kepolisian
Negara  Republik  Indonesia  berdasarkan  ketentuan  dalam  Hukum  Acara
Pidana.
(4)  PPNS  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  memberitahukan  dimulainya
penyidikan  dan  menyampaikan  hasil  penyidikannya  kepada  penuntut
umum sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Hukum Acara Pidana
BAB XVII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 73
(1)  Izin  dan/atau  rekomendasi  penyelenggaraan  komunikasi  dan  informatika
yang  telah  dikeluarkan  sebelum  berlakunya  Peraturan  Daerah  ini,  masih
tetap berlaku sampai habis jangka waktunya.
(2)  Paling lambat 1 (satu) tahun terhitung sejak berlakunya Peraturan Daerah
ini,  penyelenggaraan  komunikasi  dan  informatika  harus  menyesuaikan
dengan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini.
32
BAB XVIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal  74
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar  setiap  orang  mengetahuinya,  memerintahkan  pengundangan  Peraturan
Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Cirebon.
Ditetapkan di Cirebon
pada tanggal 7 April 2014
WALIKOTA CIREBON,
ttd,
ANO SUTRISNO
Diundangkan di Cirebon
pada tanggal 8 April 2014
SEKRETARIS DAERAH KOTA CIREBON,
ttd,
ASEP DEDI
LEMBARAN DAERAH KOTA CIREBON TAHUN 2014 NOMOR  5  SERI E
salinan sesuai dengan aslinya
KEPALA BAGIAN HUKUM,
ttd,
YUYUN SRIWAHYUNI P
Pembina (IV/a)
NIP. 19591029 198603 2 007
NOREG PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON, PROVINSI JAWA BARAT :
(29/2014)
33
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON
NOMOR  5  TAHUN  2014
TENTANG
PENYELENGGARAAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
I.  UMUM
Undang-Undang  Dasar  Negara  Republik  Indonesia  Tahun  1945
dengan  sangat  terang  menyatakan  bahwa  tujuan  dibentuknya
Pemerintahan  Negara  Indonesia  antara  lain  adalah  untuk  melindungi
segenap  Bangsa  Indonesia  dan  seluruh  tumpah  darah  Indonesia,
memajukan  kesejahteraan  umum  dan  ikut  melaksanakan  ketertiban
dunia.  Oleh  karena  itu  tidak  dapat  dipungkiri  bahwa  salah  satu  peran
penyelenggara  Negara  adalah  sebagai  pelindung  kepentingan  segenap
masyarakat.
Upaya  untuk  mewujudkan  tujuan-tujuan  di  atas  diperlukan
adanya  dukungan  dari  program-program  pembangunan  yang  diatur  oleh
seperangkat peraturan perundang-undangan. Usaha untuk meningkatkan
kesejahteraan  umum  misalnya,  dapat  dilakukan  melalui  pengaturan
penyelenggaraan  komunikasi  dan  informatika  dengan  sarana  dan
prasarana  yang  mendukungnya  yang  mampu  menopang  terpenuhinya
kebutuhan  dasar  masyarakat,  begitupun  menyangkut  keamanan,
kenyamanan,  ketentraman,  dan  keadilan  untuk  menikmati  layanan
komunikasi  dan  informatika,  sehingga  tercipta  suasana  harmonis
diantara  sesama  masyarakat  Indonesia  umumnya  dan  masyarakat  Kota
Cirebon khususnya.
Secara  filosofis  penyelenggaraan  komunikasi  dan  informatika
bertujuan  untuk  melindungi  kepentingan  masyarakat  luas  dengan  cara
mengadakan  pelayanan  di  bidang  komunikasi  dan  informatika  yang
sebaik-baiknya,  sekaligus  memenuhi  kebutuhan  masyarakat  yang  sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuan mereka secara cepat dan berkualitas.
Perkembangan  teknologi  dewasa  ini  sudah  memasuki  era
konvergensi  antara  telekomunikasi,  penyiaran  dan  teknologi  informasi.
Konvergensi sudah menjadi kenyataan sehari-hari dan merupakan bagian
yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada  saat  ini,  jasa  telekomunikasi  dengan  mudah  dapat  merambah  ke
penyelenggaraan  jasa  lain  yang  berhubungan  dengan  penyiaran  dan
teknologi  informasi.  Sementara  itu,  sebaliknya  jasa  teknologi  informasi
juga  sudah  dapat  menunjang  penyelenggaraan  telekomunikasi  dan
sekaligus penyiaran.
34
Penyelenggaraan  komunikasi  dan  informatika  yang  didalamnya
memuat  Teknologi  Informasi  dan  Komunikasi  (TIK)  sebagai  bagian   dari
ilmu  pengetahuan   dan  teknologi  (IPTEK)  secara  umum  adalah  semua
yang  berhubungan  dengan  pengambilan,  pengumpulan  (akuisisi),
pengolahan,  penyimpanan,  penyebaran,  dan  penyajian  informasi  yang
mencakup  semua  perangkat  keras,  perangkat  lunak,  kandungan  isi,  dan
infrastruktur komputer maupun (tele) komunikasi.
Namun  disisi  lain,  teknologi  informasi  dan  komunikasi  yang
berkembang  dengan  pesat,  dapat    dimanfaatkan    juga    dalam    proses
pemerintahan  (e-government)  untuk  meningkatkan  efisiensi,  efektivitas,
transparansi,  dan  akuntabilitas  penyelenggaraan  pemerintahan.
Pemerintahan elektronik atau e-government adalah penggunaan teknologi
informasi  oleh  pemerintah  untuk  memberikan  informasi  dan  pelayanan
bagi  warganya,  serta  hal-hal  lain  yang  berkenaan  dengan  pemerintahan.
e-Government  diaplikasikan  pada  penyelenggaraan  pelayanan  publik
untuk  meningkatkan  efisiensi  internal,  menyampaikan  pelayanan  publik,
atau  proses  kepemerintahan  yang  demokratis.  Model  penyampaian  yang
utama  adalah  Government-to-Citizen  atau  Government-to-Customer
(G2C),  Government-to-Business  (G2B)  serta  Government-to-Government
(G2G).  Keuntungan  dari  penerapan  e-government  adalah  peningkatan
efisiensi,  kenyamanan,  serta  aksesibilitas  yang  lebih  baik  dari  pelayanan
publik.
Hak  memperoleh  informasi  juga  merupakan  hak  asasi  manusia
dan  keterbukaan  informasi  publik  merupakan  sarana  dalam
mengoptimalkan  pengawasan  publik  atas  penyelenggaraan  tata  kelola
kepemerintahan  yang  baik  dalam  proses  penyelenggaraan  manajemen
pemerintahan  Daerah.  Pemanfaatan  komunikasi  dan  informatika  perlu
dikedepankan  dalam  proses  penyelenggaraan  manajemen  pemerintahan
daerah  sesuai  kewenangan  pemerintah  daerah  berdasarkan  ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Karena  itu  untuk  menyelenggarakan  pemerintahan  yang  baik
(good  governance)  dalam  rangka  mewujudkan  tujuan  penyelenggaraan
komunikasi  dan  informatika  serta  meningkatkan  layanan  publik  yang
efektif,  efisien,  transparan  dan  akuntabel,  perlu  ditetapkan  peraturan
daerah  yang  menjadi  dasar  hukum  penyelenggaraan  komunikasi  dan
informatika yang di dalamnya memuat pengaturan mengenai pelaksanaan
e-government  di  Kota  Cirebon,  sekaligus  memberikan  keterpaduan  antar
OPD dalam pelaksanaan e-government serta memaksimalkan pemanfaatan
teknologi  komunikasi  dan  informasi  untuk  pengolahan,  pengelolaan,
penyaluran,  dan  pendistribusian  informasi  dalam  pelayanan  publik  di
Kota Cirebon.
II.  PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Yang dimaksud dengan manfaat, yaitu penyelenggaraan komunikasi
dan  informatika  akan  berdaya  guna  dan  berhasil  guna  bagi
infrastuktur  pembangunan,  sarana  penyelenggaraan  pemerintahan,
sarana  pendidikan,  sarana  perhubungan,  maupun  sebagai
35
komoditas  ekonomi  yang  dapat  lebih  meningkatkan  kesejahteraan
masyarakat melalui pelayanan publik yang optimal.
Yang  dimaksud  dengan  adil  dan  merata,  yaitu  penyelenggaraan
komunikasi  dan  informatika  memberikan  kesempatan  dan
perlakuan  yang  sama  kepada  semua  pihak  dan  hasil-hasilnya
dinikmati oleh masyarakat secara adil dan merata.
Yang  dimaksud  dengan  kepastian  hukum,  yaitu  penyelenggaraan
komunikasi  dan  informatika  harus  didasarkan  pada  ketentuan
peraturan  perundang-undangan  yang  menjamin  kepastian  hukum,
dan memberikan perlindungan hukum bagi semua pihak.
Yang  dimaksud  dengan  sinergi,  yaitu  penyelenggaraan  komunikasi
dan  informatika  dilaksanakan  sebagai  upaya  untuk  terwujudnya
harmoni,  saling  mendukung  dan  menghubungkan  antara
Pemerintah  Kota,  masyarakat  dan  dunia  usaha  untuk  melakukan
kerjasama demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Yang  dimaksud  dengan  transparansi,  yaitu  setiap  penerima
pelayanan  dapat  dengan  mudah  mengakses  dan  memperoleh
informasi mengenai pelayanan yang diinginkan.
Yang  dimaksud  dengan  keamanan,  yaitu  penyelenggaraan
komunikasi  dan  informatika  selalu  memperhatikan  faktor
keamanan  dalam  perencanaan,  pembangunan  dan
pengoperasiannya.
Yang  dimaksud  dengan  kemitraan,  yaitu  penyelenggaraan
komunikasi  dan  informatika  harus  dapat  mengembangkan  iklim
yang harmonis, timbal balik dan sinergi.
Yang  dimaksud  dengan  etika,  yaitu  penyelenggaraan  komunikasi
dan  informatika  senantiasa  dilandasi  oleh  semangat
profesionalisme, kejujuran, kesusilaan, dan keterbukaan.
Yang  dimaksud  dengan  akuntabilitas,  yaitu  penyelenggaraan
komunikasi  dan  informatika  harus  dapat  dipertanggungjawabkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Yang  dimaksud  dengan  partisipatif,  yaitu  penyelenggaraan
komunikasi dan informatika harus dilaksanakan dengan melibatkan
seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
36
Ayat (3)
Kerangka  pemikiran  dasar  lembaga  memuat  seluruh  kerangka
berpikir  mengenai  kondisi  ideal  yang  harus  dicapai  dalam
menerapkan e-government di setiap lembaga pemerintah.
Cetak  biru  pengembangan  merupakan  suatu  rincian  teknis
yang  perlu  dimiliki  oleh  setiap  lembaga.  Pembuatan  cetak  biru
harus  didasarkan  pada  konsep  penyelenggaraan  sistem
informasi  pemerintahan  berbasis  elektronik.  Cetak  biru  yang
perlu disusun antara lain :
1.  cetak biru proses kerja;
2.  cetak biru data;
3.  cetak biru aplikasi;
4.  cetak biru jaringan;
5.  cetak biru sumberdaya manusia dan organisasi;dan
6.  cetak biru pendanaan.
Tahap pengembangan merupakan rancangan pengembangan  egovernment  berdasarkan  kondisi  saat  ini  sebagai  titik  awal,
menuju kondisi ideal yang seharusnya dipenuhi sesuai dengan
cetak biru.
Rencana  implementasi  e-government  mengacu  kepada
pentahapan  pengembangan  e-government  secara  nasional  dan
disesuaikan  dengan  kondisi  yang  ada  di  setiap  OPD  di
lingkungan Pemerintah Kota.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 6
Huruf a
Yang  dimaksud  dengan  government  to  government  adalah
Pemerintah  Kota  menyediakan  fasilitas  jaringan  interkoneksi
antar  lembaga  pemerintah,  untuk  mempercepat  pertukaran
data, menyediakan sistem aplikasi e-government  untuk layanan
masyarakat  dan  menyediakan  layanan  content  untuk  layanan
informasi bagi masyarakat.
Huruf b
Yang  dimaksud  dengan  government  to  bussiness  adalah
Pemerintah  Kota  menyediakan  layanan  untuk  mempermudah
dan  memperluas  akses  pelaku  usaha  terhadap  informasiinformasi  yang  diperlukan  bagi  kepentingan  usahanya,
misalnya  beragam  kebijakan  publik,  prosedur  perizinan,
pengadaan lelang oleh pemerintah, dan lain-lain.
Huruf c
Yang  dimaksud  dengan  government  to  citizen  adalah
Pemerintah  Kota  menyediakan layanan informasi dan layanan
pengaduan  secara  responsif  bagi  masyarakat,  sebagai  bagian
dari keterbukaan informasi publik.
Pemerintah  menyediakan  aplikasi  layanan  publik  berbasis
teknologi  informasi  dan  komunikasi,  seperti  layanan
kependudukan,  kesehatan,  pendidikan,  tenaga  kerja,  sosial,
lingkungan dan sektor lainnya.
37
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang  dimaksud  dengan  sistem  operasi  adalah  perangkat
lunak  sistem  yang  bertugas  untuk  melakukan  kontrol
dan  manajemen  perangkat  keras  serta  operasi-operasi
dasar  sistem,  termasuk  menjalankan  software  aplikasi
seperti program-program pengolah kata dan browser web.
Antara  lain  sistem  operasi  adalah  Windows,  Linux,
Macintosh dan sistem operasi lainnya yang sejenis.
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Sekat  pembatas  atau  bilik  komputer  dimaksudkan
sebagai  pembatas  antara  meja  komputer  yang  satu
dengan  meja  komputer  yang  lain  untuk  menjamin
kenyamanan pengguna.
Huruf b
Cukup jelas.
38
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Ayat (4)
Huruf a
Pencegahan  eksploitasi  akses  internet  dalam  hal  ini
untuk  tujuan  mengendalikan  pengguna  internet  untuk
tidak  mengakses  situs-situs  yang  bermuatan
pertentangan  sosial,  suku,  agama,  ras,  situs  pornografi,
situs  perjudian,  situs  penipuan,  situs  kejahatan,  situs
terorisme  dan  situs-situs  lain  yang  merugikan  pengguna
maupun orang lain.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Penyelenggaraan  jasa  jaringan  internet  hotspot  dalam  hal  ini  lebih
diutamakan  untuk  melayani  pengguna  sekaligus  sebagai
pengunjung  suatu  tempat  umum,  seperti  pusat  perbelanjaan,
restoran,  hotel,  kampus,  sekolah,  perkantoran  pemerintah,
pelabuhan, tempat wisata dan lain lain.
Pasal 21
Ayat (1)
Izin-izin  yang  harus  dipenuhi  diberlakukan  untuk  layanan
hotspot  yang  diselenggarakan  dengan  tujuan  komersial  atau
layanan  pelanggan  suatu  badan  atau  lembaga  usaha.  Yang
termasuk  dalam  kelompok  ini  meliputi  hotel,  restoran,  kafe,
penginapan  atau  yang  sejenis,  tempat  wisata,   pelabuhan,
rumah sakit, dan lain-lain.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Layanan  hotspot  dengan  tujuan  sosial  dan  pendidikan  tidak
diwajibkan untuk memiliki izin usaha, karena layanan ini tidak
bersifat  komersial.  Sifatnya  bisa  terbuka  maupun  tertutup
dengan menggunakan nama pengguna dan kata sandi tertentu.
39
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang  termasuk  usaha  perdagangan  alat/perangkat
telekomunikasi skala kecil dengan 1 (satu) – 2 (dua) orang
tenaga  kerja   terutama  dikhususkan  bagi
penyelenggaraan  konter  telepon  selular  yang  menjual
pulsa  telepon  selular  ditambah  perangkat  telepon  selular
secara terbatas.
Huruf b
Yang  termasuk  usaha  perdagangan  alat/perangkat
telekomunikasi  skala  menengah  dengan  3  (tiga)  -  5
(lima)  orang  tenaga  kerja   adalah  penyelenggara  usaha
kios  atau  toko  yang  menjual  perangkat  keras  telepon
selular  ditambah  penjualan  pulsa  telepon  selular  dan
layanan  perbaikan  kerusakan  perangkat  keras  maupun
perangkat lunak telepon selular.
Huruf c
Yang  termasuk  usaha  perdagangan  alat/perangkat
telekomunikasi  skala  besar  dengan  lebih  dari  5  orang
tenaga kerja adalah penyelenggara usaha toko, pedagang
penyalur  (distributor),  pedagang  grosir,  kantor  cabang,
dan  agen  penjualan  perangkat  keras  telepon  selular  dan
kartu perdana serta pulsa telepon selular.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
40
Pasal 31
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Sistem  operasi  dalam  hal  ini  seperti  misalnya  Windows,
Linux,  Macintosh  dan  sistem  operasi  lainnya  yang
sejenis.
Huruf b
Aplikasi permainan yang legal adalah aplikasi permainan
daring  yang  diperoleh  secara  sah  sesuai  peraturan
perundang-undangan  atau  hukum  baik  secara  daring
maupun  luring.  Diperoleh  secara  daring  (online)  adalah
penguasaan  dan  pemasangan  aplikasi  yang  diperoleh
secara  langsung  melalui  internet,  sedangkan  secara
luring  (offline)  adalah  perolehan  secara  tidak  langsung
melalui toko penjualan perangkat lunak.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Sekat  pembatas  atau  bilik  komputer  dimaksudkan
sebagai  pembatas  antara  meja  komputer  yang  satu
dengan  meja  komputer  yang  lain  untuk  menjamin
kenyaman pengguna.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Ayat (4)
Huruf a
Pencegahan  eksploitasi  akses  internet  dalam  hal  ini
untuk  tujuan  mengendalikan  pengguna  internet  untuk
tidak  mengakses  situs-situs  yang  bermuatan
pertentangan  sosial,  suku,  agama,  ras,  situs  pornografi,
situs  perjudian,  situs  penipuan,  situs  kejahatan,  situs
terorisme  dan  situs-situs  lain  yang  merugikan  pengguna
maupun orang lain.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
41
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Ayat (1)
Huruf a
Kabel  telekomunikasi  bawah  tanah  (gali  tanam)  adalah
kabel  telekomunikasi  berjenis  logam  maupun  fiber  optik
yang  berfungsi  mengalirkan  suara,  video  maupun  data
yang pemasangannya ditanam di dalam tanah.
Huruf b
Kabel telekomunikasi atas tanah (tambat gantung) adalah
kabel  telekomunikasi  berjenis  logam  maupun  fiber  optik
yang  berfungsi  mengalirkan  suara,  video  maupun  data
yang  pemasangannya  digantung  dan  diikat  pada  tiangtiang.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Prasarana  yang  disediakan  Pemerintah  Kota  berupa  Ducting
kabel  telekomunikasi  bawah  tanah  yang  berfungsi  sebagai
rumah  untuk  kabel-kabel  telekomunikasi  yang  digunakan
secara bersama-sama oleh penyelenggara kabel telekomunikasi
bawah tanah.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 39
Cukup jelas.
Pasal 40
Cukup jelas.
Pasal 41
Cukup jelas.
Pasal 42
Cukup jelas.
42
Pasal 43
Cukup jelas.
Pasal 44
Cukup jelas.
Pasal 45
Cukup jelas.
Pasal 46
Cukup jelas.
Pasal 47
Cukup jelas.
Pasal 48
Cukup jelas.
Pasal 49
Cukup jelas.
Pasal 50
Cukup jelas.
Pasal 51
Ayat (1)
Huruf a
Penyelenggaraan  televisi  berlangganan  yang
menggunakan  media  satelit  adalah  siaran  televisi  yang
penyalurannya  melalui  satelit  dan  penerimaan  siaran
dengan  menggunakan  perangkat  antena  parabola  atau
jenis antena lainnya.
Huruf b
Penyelenggaraan  televisi  berlangganan  yang
menggunakan media terestrial adalah siaran televisi yang
disalurkan  dengan  menggunakan  gelombang  radio  baik
VHF  maupun  UHF  dan  penerimaan  oleh  pelanggan
dengan menggunakan antena VHF atau UHF.
Huruf c
Penyelenggaraan  televisi  berlangganan  yang
menggunakan  media  kabel  adalah  penyaluran  dan
penerimaan  siaran  yang  menggunakan  kabel  beserta
kelengkapannya.
Ayat (2)
Penyelenggaraan  dan  penyaluran  siaran  dengan
menggunakan  media  kabel  dapat  dipadukan  dengan
penyaluran  data  internet,  sehingga  penyelenggara  televisi
berlangganan  dengan  menggunakan  media  kabel  dapat
menggabungkannya  dengan  penyelenggaraan  jasa  internet
(internet service provider/ISP).
Pasal 52
Cukup jelas.
43
Pasal 53
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Pemberian  rekomendasi  kelayakan  administrasi  dan  data
serta  izin  lokasi  studio  oleh  pemerintah  daerah  dalam  hal  ini
walikota  adalah  bagian  dari  kewenangan  yang  diberikan  oleh
pemerintah kepada pemerintah kota.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 54
Ayat (1)
Huruf a
Penyelenggaraan  radio  dan  televisi  swasta  yang
menggunakan  media  satelit  adalah  siaran  radio  dan
televisi  yang  penyalurannya  melalui  satelit  dan
penerimaan  siaran  dengan  menggunakan  perangkat
antena parabola atau jenis antena lainnya.
Huruf b
Penyelenggaraan  radio  dan  televisi  swasta  yang
menggunakan  media  terestrial  adalah  siaran  radio  dan
televisi  yang  disalurkan  dengan  menggunakan
gelombang  radio  baik  VHF  maupun  UHF  dan
penerimaan  oleh  pelanggan  dengan  menggunakan
antena VHF atau UHF.
Huruf c
Penyelenggaraan  radio  dan  televisi  swasta  yang
menggunakan  media  kabel  adalah  penyaluran  dan
penerimaan  siaran  yang  menggunakan  kabel  beserta
kelengkapannya.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 55
Cukup jelas.
Pasal 56
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
44
Ayat (5)
Pemberian  rekomendasi  kelayakan  administrasi  dan  data
serta  izin  lokasi  studio  oleh  pemerintah  daerah  dalam  hal  ini
walikota  adalah  bagian  dari  kewenangan  yang  diberikan  oleh
pemerintah kepada pemerintah kota.
Pasal 57
Huruf a
Penyelenggaraan  radio  dan  televisi  komunitas  yang
menggunakan  media  satelit  adalah  siaran  radio  dan  televisi
yang  penyalurannya  melalui  satelit  dan  penerimaan  siaran
dengan  menggunakan  perangkat  antena  parabola  atau  jenis
antena lainnya.
Huruf b
Penyelenggaraan  radio  dan  televisi  komunitas  yang
menggunakan media terestrial adalah siaran radio dan televisi
yang  disalurkan  dengan  menggunakan  gelombang  radio  baik
VHF  maupun  UHF  dan  penerimaan  oleh  pelanggan  dengan
menggunakan antena VHF atau UHF.
Huruf c
Penyelenggaraan  radio  dan  televisi  komunitas  yang
menggunakan  media  kabel  adalah  penyaluran  dan
penerimaan  siaran  yang  menggunakan  kabel  beserta
kelengkapannya.
Pasal 58
Ayat (1)
Penyelenggaraan  penyiaran  komunitas  pada  hakekatnya
adalah  kegiatan  yang  tidak  bersifat  komersial  yang  bertujuan
melayani kepentingan suatu komunitas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 59
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Pemberian  rekomendasi  kelayakan  administrasi  dan  data
serta  izin  lokasi  studio  oleh  pemerintah  daerah  dalam  hal  ini
walikota  adalah  bagian  dari  kewenangan  yang  diberikan  oleh
Pemerintah kepada Pemerintah Kota.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 60
Cukup jelas.
45
Pasal 61
Cukup jelas.
Pasal 62
Cukup jelas.
Pasal 63
Cukup jelas.
Pasal 64
Cukup jelas.
Pasal 65
Cukup jelas.
Pasal 66
Cukup jelas.
Pasal 67
Cukup jelas.
Pasal 68
Cukup jelas.
Pasal 69
Cukup jelas.
Pasal 70
Cukup jelas.
Pasal 71
Cukup jelas.
Pasal 72
Cukup jelas.
Pas

Older posts «